Aktual Terkini.com- PEKANBARU – Rangkaian safari politik yang dilakukan oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, ke sejumlah wilayah di tanah air mulai mendapatkan tanggapan dari jajaran elite Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Setelah mengawali kunjungannya di Lampung, Joko Widodo dijadwalkan akan melanjutkan perjalanan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Jawa Barat. Langkah ini dinilai oleh sejumlah pengamat sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat basis dukungan politik menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2029.
Menyikapi fenomena tersebut, politikus senior PDI Perjuangan Riau, Suryadi Khusaini, mengimbau seluruh kader partai agar tetap tenang dan tidak terpancing oleh manuver politik yang sedang berlangsung. Menurut Suryadi, setiap partai politik memiliki strategi masing-masing, dan PDI Perjuangan tidak perlu mengubah arah kebijakan maupun fokus kerjanya hanya karena pergerakan politik dari pihak lain.
“Kalau ingin membesarkan partai yang masih kecil, tentu harus berhadapan langsung dengan partai-partai besar. Tapi PDI Perjuangan jangan terpancing,” ujar Suryadi kepada awak media pada Minggu (5/7/2026), usai menghadiri upacara penutupan Soekarno Cup I Riau di Stadion Kaharuddin Nasution.
Pernyataan tersebut diduga kuat merujuk pada kedekatan Joko Widodo dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), organisasi politik yang saat ini dipimpin oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep. Belakangan ini, berbagai agenda kunjungan Joko Widodo kerap dikaitkan erat dengan upaya memperluas konsolidasi dan memperkuat posisi tawar PSI di tingkat daerah.
Fokus pada Program Kerja dan Pelayanan Masyarakat
Suryadi menegaskan bahwa kader PDI Perjuangan seharusnya memprioritaskan konsolidasi internal dan kerja nyata di tengah-tengah masyarakat, daripada menghabiskan energi untuk merespons langkah politik kompetitor.
-
Orientasi Kerja: Fokus pada pengembangan olahraga, penguatan ekonomi rakyat, dan pelestarian lingkungan.
-
Strategi Taktis: Menjalankan program kerja yang telah digariskan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) secara konsisten.
-
Sikap Politik: Menghindari tindakan reaktif atau konfrontatif terhadap serangan politik dari luar.
“Kita tetap berjalan seperti saat ini. Peduli dengan olahraga, peduli dengan ekonomi masyarakat, peduli dengan lingkungan. Kita tetap konsentrasi dengan program partai saja. Tidak usah terpengaruh dengan gerakan-gerakan politik partai lain, termasuk partai yang disponsori oleh beliau. Walaupun kita diserang, jangan menyerang. Itu kuncinya,” tegas Suryadi.
Optimisme Terhadap Militansi Basis Pemilih di Riau
Mantan Ketua DPD PDI-P Riau ini juga menyatakan keyakinannya bahwa safari politik Joko Widodo tidak akan menggerus ceruk suara partai di Provinsi Riau. Ia menilai PDI Perjuangan memiliki struktur dan basis massa yang telah mengakar kuat selama puluhan tahun
Rekam Jejak Dinamika Hubungan Politik
Dinamika yang terjadi saat ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang hubungan antara Joko Widodo dan PDI Perjuangan. Sebagaimana diketahui, karier politik Joko Widodo bermula di bawah naungan partai berlambang banteng moncong putih tersebut, mulai dari Pemilihan Wali Kota Surakarta (2005), Pemilihan Gubernur DKI Jakarta (2012), hingga Pemilihan Presiden (2014 dan 2019).
Namun, hubungan bilateral ini mengalami keretakan menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, di mana Joko Widodo dinilai tidak sejalan dengan keputusan resmi partai yang mengusung Ganjar Pranowo. Arah dukungan politik Joko Widodo yang condong kepada pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memicu ketegangan internal, yang pada akhirnya berujung pada pemberhentian resmi Joko Widodo dari keanggotaan PDI Perjuangan pada akhir tahun 2024.
Oleh karena itu, safari politik yang dilakukan Joko Widodo saat ini dipandang oleh para elite PDI Perjuangan bukan sekadar kunjungan sosial biasa, melainkan kelanjutan dari konfigurasi ulang peta politik pasca-pemisahan hubungan antara mantan presiden dua periode tersebut dengan partai yang membesarkannya.























