Kawasan wisata Danau Rusa PLTA Koto Panjang di Kecamatan XIII Koto Kampar mendadak gempar setelah video seorang wisatawan asing mengenakan bikini viral di media sosial. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kampar mengakui adanya celah pengawasan saat peristiwa itu terjadi.
Kepala Disparbud Kampar, Afdal, menjelaskan bahwa insiden tersebut berlangsung secara tiba-tiba dan baru pertama kali ditemukan di lokasi tersebut. Menurutnya, minimnya personel di lapangan menjadi alasan utama pengunjung tersebut luput dari pantauan.
“Petugas yang berjaga saat itu hanya dua sampai tiga orang saja. Sebagian besar staf sedang dialihkan untuk agenda gotong royong pembersihan di titik lain, sehingga kedatangan tamu itu tidak terpantau oleh tim,” jelas Afdal, Senin (9/2/2026).
Afdal menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak membenarkan hal tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk kecolongan pengawasan. Sebagai langkah evaluasi, ia telah memerintahkan petugas lapangan untuk lebih proaktif dalam mensosialisasikan aturan etika berpakaian kepada seluruh pengunjung, baik turis mancanegara maupun lokal.
“Kita semua sepakat bahwa ekonomi tidak boleh menabrak aturan adat. Namun, cara mengingatkan wisatawan nantinya harus dilakukan dengan bijak dan tidak emosional, mengingat latar belakang budaya mereka yang berbeda,” tambahnya.
Di sisi lain, muncul gelombang protes dari tokoh masyarakat. Ketua Gugus Depan Pemuda Serambi Mekkah (GPSM) Kabupaten Kampar, Masnur Abdurrahman, merasa sangat prihatin karena kejadian ini dinilai melukai nilai religius masyarakat Kampar yang dikenal dengan filosofi Tigo Tungku Sajorangan.
“Kampar punya norma sosial dan agama yang sangat kuat. Pengembangan pariwisata jangan sampai mengorbankan moral dan akhlak hanya demi keuntungan ekonomi sesaat,” tegas Masnur, Senin (9/2/2026).
Ia mendesak pemerintah daerah segera menerbitkan regulasi tertulis mengenai etika berperilaku di objek wisata agar identitas Kampar sebagai Serambi Mekkah tetap terjaga. Masnur menyarankan agar konsep wisata ke depan lebih menonjolkan aspek adat dan budaya lokal daripada meniru gaya daerah lain yang tidak sesuai dengan jati diri masyarakat setempat. ***
















