Melanggar Aturan Imigrasi, 6 WN Singapura Dideportasi dari Batam

Aktual Terkini – Gara-gara melanggar aturan keimigrasian saat berkunjung ke Batam, 6 warga Singapura dideportasi oleh Imigrasi Batam. Tiga di antara mereka adalah anggota Wamil (Wajib Militer).

Saat itu, ketiganya hanya memperlihatkan kartu Wajib Militer dan menolak untuk diperiksa.

Menurut Kepala Imigrasi Batam Teguh Prayitno, tindakan pemulangan sudah sesuai dengan prosedur keimigrasian. Di mana pihaknya telah melakukan pemeriksaan dan berkoordinasi dengan semua pihak.

“Prosesnya sudah sesuai keimigrasian, kami lakukan pemeriksaan, dan barulah dipulangkan dengan pengawalan,” jelas Teguh yang Aktualterkini.com kutip Kamis (27/4/2017).

Enam warga negara Singapura — yang ditangkap saat razia tim gabungan Pomal (Polisi Militer Angkatan Laut), TNI AL, AD dan AU serta instansi pemerintahan Kota Batam — dijemput Konjen Singapura di Batam.

“Saya kira mereka bukan penyusup, jika mereka melakukan misi rahasia tidak akan menunjukan identitas sebenarnya,” ucap Teguh dalam konferensi pers di Kantor Imigrasi Batam pada Selasa 25 April sore.

Setelah pemeriksaan lebih lanjut, keenam warga Singapura itu akhirnya mengaku bahwa paspor dan beberapa identitas lainnya tertinggal di hotel. Padahal sudah seharusnya mereka membawa kelengkapan tersebut.

“Status mereka dideportasi tangkal, karena melangar keimigrasian,” ucap Teguh.

Untuk itu, selama 6 bulan mereka tidak diperboleh masuk ke Tanah Air dan surat cekal sudah diedarkan ke seluruh imigrasi se-Indonesia.

Teguh Prayitno menuturkan, sebenarnya ada 41 WNA berbagai negara terjaring razia di Kampung Bule Nagoya, Batam pada 21 April — termasuk 6 WN Singapura.

Sebanyak 34 orang dapat memperlihatkan izin perjalanan dan tinggal, 7 WNA dideportasi karena melanggar aturan imigrasi.

“Saat pemeriksaan, ketujuh WNA tidak bisa menunjukkan identitas lengkap salah satunya paspor. Sehingga mereka harus dideportasi,” jelas Teguh.

Identitas WN Wamil Singapura

Setelah diperiksa lebih lanjut, identitas 3 WN singapura anggota Wamil akhirnya bisa diketahui.

Mereka adalah Kanessan Gunasegaran yang lahir 17 September 1995 dengan nomor paspor E6490682F, kemudian Ashok Kumar kelahiran 18 Mei 1995 pemilik paspor E4297106C dan Sakthivel pria dengan tanggal lahir 30 Agustus 1994 dengan nomor paspor E3789105A.

Di tempat yang sama, Komandan Pomal (Polisi Militer Angkatan Laut) Lantamal IV Mayor Laut Joko Hery mengatakan, tujuan melakukan razia gabungan itu merupakan instruksi dari Panglima TNI melalui perintah pimpinan untuk merazia anggota TNI dan Polri yang berada di tempat hiburan malam.

“Untuk sipil dan orang asing kami tidak ada kewenangan, kami serahkan ke polisi, Satpol PP, Imigrasi, BIN dan BAIS,” jelas Mayor Joko.

“Kalau ditemukan oknum anggota TNI akan ditindak tegas dan diberikan sanksi aturan hukum yang berlaku,” tegas Mayor Joko.

Razia dilakukan dengan berdasarkan riwayat keributan yang pernah terjadi di tempat hiburan malam.

“Kalau semua tempat hiburan malam dan perjudian dirazia akan memakan waktu, jadi kita pilih yang besar dan banyak potensi keributan,” pungkas Mayor Joko.